“PENGEMBANGAN BATIK TULIS LASEM SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA”
OPTIMALISASI SUMBERDAYA LOKAL SEBAGAI ASET USAHA GLOBAL
Oleh:
Munfarichah
017601438
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH
UNIVERSITAS TERBUKA
SEMARANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Essay : Pengembangan Batik Tulis Lasem sebagai Warisan Budaya Dunia
2. Subtema : Optimalisasi Sumberdaya Lokal sebagai aset Usaha Global
3. Identitas Peserta
a. Nama Lengkap : Munfarichah
b. NIM : 017601438
c. Univ/Institut/Politeknik : Universitas Terbuka UPBJJ Semarang
d. Alamat rumah : Kedung Umbul Sedan Rembang RT/RW : 07/03
Semarang, 23 Maret 2015
Menyetujui,
`SURAT PERNYATAN ORISINALITAS KARYA
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Munfarichah
NIM : 017601438
Asal Perguruan Tinggi : Universitas Terbuka UPBJJ Semarang
Dengan ini menyatakan bahwa usulan essay saya dengan judul:
“Pengembangan Batik Tulis Lasem sebagai Warisan Budaya Dunia” yang diikutkan dalam National Enterpreuner Essay Competition SNNMPDN 2015 bersifat original dan terbebas dari plagiarisme serta belum pernah di publikasikan dalam lomba apapun sebelumnya.
Bila dikemudian hari ditentukan ketidaksesuaian dengan perrnyataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.
23 /03/2015
Yang menyatakan,
Munfarichah
017601438
PENGEMBANGAN BATIK TULIS LASEM
SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA
“Optimalisasi Sumberdaya Lokal sebagai aset Usaha Global”
Pendahuluan
Batik adalah salah satu kesenian warisan budaya Indonesia yang telah dikenal sejak abad XVII. Kain batik pada masa kerajaan Indonesia merupakan pakaian yang digunakan oleh para raja, keluarga, beserta pengikut-pengikutnya. Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik menjadi budaya yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Salah satu lembaga dunia, UNESCO menetapkan dan mengakui batik sebagai warisan budaya dari Indonesia pada tanggal 2 oktober 2009. Bagi para pengrajin batik di Indonesia, kabar tersebut merupakan angin segar karena mereka bisa lebih bersemangat tanpa ada rasa tertekan akibat klaim dari negara lain seperti sebelumnya.
Secara umum ada dua jenis batik yaitu batik tulis dan batik cap. Batik tulis terwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang. Batik tulis terbagi menjadi dua berdasarkan letak geografis pembuatan di Jawa. Pertama adalah batik pesisiran yang mencakup wilayah seperti Pekalongan, Kudus, Lasem, Madura. Adapun yang kedua adalah batik nonpesisiran yang meliputi Solo, Yogyakarta, dan Banyumas. Batik nonpesisiran biasanya terjebak pada sistem aturan dari keraton. Berbeda dengan batik pesisiran yang tidak terpengaruh oleh pakem dan biasanya memakai motif yang lebih berani akibat pengaruh alam sekitar dan interaksi dengan pendatang.
Batik tulis Lasem merupakan salah satu bentuk warisan budaya Indonesia yang sudah ada sebelum Laksamana Cheng Ho datang ke Nusantara. Kedatangan Laksamana Cheng Ho beserta para saudagar dari China dan Vietnam berpengaruh besar terhadap corak batik di Lasem. Batik Lasem paling terpengaruh oleh budaya China, misalnya motif burung, bunga krisan, bunga teratai, dan kupu-kupu.
Dalam perkembangan selanjutnya, batik tulis Lasem mengalami kemerosotan. Beberapa faktor yang menjadi penyebab merosotnya pemasaran batik tulis Lasem adalah: (1) semakin banyaknya batik cap yang dikembangkan oleh pengusaha-pengusaha diberbagai daerah; (2) pengusaha etnis Cina Lasem sebagai penguasa perdagangan batik tulis Lasem nampaknya semakin merajai pasar; (3) generasi penerus usaha pembatikan lebih suka bekerja pada bidang-bidang yang sesuai dengan pengetahuan yang di peroleh di sekolah atau perguruan tinggi; (4) membanjirnya batik sablon atau batik cetak (printing); dan (5) kurang minatnya konsumen untuk melirik produk batik karena sifatnya yang terkesan kaku dan monoton.
A. Deskripsi Usaha
Siapapun yang ingin memulai usaha dalam bidang apapun, maka yang pertama kali harus diketahui adalah peluang pasar dan bagaimana menggaet order. Bagaimana peluang pasar yang hendak kita masuki dalam bisnis kita dan bagaimana cara memperoleh order tersebut. Yang kedua adalah kita harus mampu menganalisa keunggulan dan kelemahan pesaing kita dan sejauh mana kemampuan kita untuk bersaing dengan mereka baik dari sisi harga, pelayanan maupun kualitas. Yang ketiga adalah persiapkan mental dan keberanian memulai. Singkirkan hambatan psikologis rasa malu, takut gagal dan perang batin antara berkeinginan dan keraguan. Jangan lupa harus siap menghadapi resiko, dimana resiko, bisnis adalah untung atau rugi. Semakin besar untungnya maka resikonya pun semakin besar. Yang terpenting adalah berani mencoba dan memulai. Lebih baik mencoba tetapi gagal dari pada gagal mencoba.
a. Latar Belakang Produk
Seperti yang telah dikutip dalam pendahuluan diatas, perkembangan batik Lasem saat ini mengalami penurunan. Pengusaha yang menghasilkan batik lasem banyak yang gulung tikar. Dari sekitar 140 pengusaha batik pada tahun 1950-an, kemudian merosot menjadi sekitar 70 pengusaha pada tahun 1970, dan kini tinggal sekitar 12 orang saja yang masih mengusahakan pembatikan. Dapat dikatakan batik lasem terancam punah.
Melihat keadaan ini, sebagai generasi muda kami ingin melakukan perubahan-perubahan untuk mengangkat kembali batik tulis lasem di masyarakat. salah satunya adalah dengan megembangkan usaha pemasaran batik tulis lasem dan mampu bersanding dengan produk-produk lain dalam lingkup lokal maupun secara global.
b. Produk/Jasa yang ditawarkan
Usaha penulis merupakan usaha dagang produk batik tulis lasem yang bersifat kolektif. Usaha tersebut beranggotakan lima orang dengan jabatan masing-masing sesuai dengan keahliannya. Produk yang ditawarkan berupa busana untuk dewasa (pria maupun wanita) dan anak-anak. Supaya tidak dikatakan ketinggalan zaman dan menarik minat konsumen, kini penulis melakukan kerja sama dengan pengusaha untuk memproduksi busana-busana yang sesuai dengan gaya dan tren sekarang.
c. Analisi SWOT
Paparan dalam analisis SWOT, penulis memberikan deskripsi mengenai kekuatan dan kelemahan produksi, distribusi, dan pemasaran kepada konsumen. Di samping itu, disajikan pula kesempatan atau peluang usaha dan tantangan bagi perkembangan usaha batik Lasem.
Berikut adalah isi dari paparan tersebut.
· Kekuatan
1. Batik tulis lasem menggunakan motif yang lebih berani dibandingkan dengan batik tulis dari wilayah lain. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh alam sekitar sebagai acuan pengembangan motif dan kemampuan interaktif antara produsen dan warga pendatang yang membawa muatan budaya asal mereka.
2. Pewarnaan yang khas dan tidak bisa ditiru oleh produsen batik dari tempat lain. Warna merah darah ayam menjadi ciri khusus batik lasem. Warna tersebut terwarisi secara turun-temurun. Air yang di gunakaan untuk mencampuri pewarna merah mengandung zat khusus dari Gunung Lasem, Argopuro. Sehingga akan menghasilkan warna cerah yang berbeda dengan kain batik tulis lain. Inilah kekuatan yang dimiliki oleh batik Lasem, yang tidak dapat ditiru oleh pengrajin di luar wilayah Lasem.
3. Batik lasem juga memilki motif unik, misalnya latohan dan watu pecah, yang terinspirasi oleh keadaan sosial, ekonomi, dan budaya lokal.
4. Kerajinan batik tulis tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari para wanita Lasem yang dikenal dengan motifnya yang indah dan langka. Kelangkaan tersebut di sebabkan setiap hasil karya dari para pengrajin tidak ada yang sama walaupun motif yang dicontohkan oleh pengusaha kepada pengrajin itu sama. Hal itu dikarenakan cara pengerjaan coraknya melalui lukisan tangan.
· Kelemahan
1. Semakin banyaknya batik cap yang dikembangkan oleh pengusaha-pengusaha diberbagai daerah.
2. Pengusaha etnis cina lasem sebagai penguasa perdagangan batik tulis lasem yang semakin merajai pasar.
3. Generasi penerus usaha pembatikan semakin berkurang karena minatnya mereka bekerja pada bidang-bidang sesuai dengan pengetahuan yang mereka peroleh di perguruan tinggi atau di sekolah-sekolah.
4. Membanjirnya batik sablon atau batik cetak (printing).
· Kesempatan
1. Tersedianya tenaga kerja yang trampil di bidang industri batik. Karena dalam proses industri Batik Tulis Lasem sangat membutuhkan tenaga manusia. Dampaknya dapat menciptakan lapangan kerja dan menambah penghasilan penduduk di Kecamatan Lasem.
2. Pakaian batik adalah pakaian adat masyarakat Indonesia yang sedang di galakkan pemerintah agar tidak di klaim Negara lain.
3. Pakaian batik sudah banyak di gunakan instansi instansi untuk pakaian dinas/resmi.
4. Meninngkatnya minat masyarakat dalam memakai pakaian batik. Harga yang di tawarkan bervariasi tergantuk tingkat kesulitannya.
· Tantangan
Bentuk tantangan yang berasal dari mikro yaitu :
1. Pesaing. Sekarang ini pakaian batik tidak hanya digunakan instansi-instansi untuk pakaian dinas/resmi, tetapi digunakan masyarakat umum untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga banyak orang mencoba memulai usahanya di bidang pakaian batik. Solusinya: tetap mempertahankan kekhasan keaslian dari produksi batik tulis lesem dengan varian yang unik.
2. Pelanggan. Mulai bermunculan usaha batik yang menyediakan batik bermodis dengan harga yang miring. Solusinya adalah perusahaan memilih dan menjual batik dengan inovasi motif, pemilihan warna, dan pembentukan model yang unik kepada para pelanggan.
3. Pemasok. Menjalin kerjasama yang baik dan saling menguntungkan antar keduan pihak.
Sedangkan bentuk tantangan yang berasal dari makro yaitu :
1. Sosial dan Budaya. Masuknya pengaruh budaya luar yang menghadirkan trend pakaian dengan corak yang lebih berwarna dan modis. Tentulah menarik minat para konsumen. Solusinya adalah mencoba mengkolaborasikan model pakaian dari luar negeri yang begitu modis dengan corak keaslian batik.
2. Teknologi. Teknologi yang semakin maju, menciptakan kolaborasi Pengusaha batik yang memiliki modal yang lebih besar. Otomatis perusahaan yang lebih besar modalnya akan menggunakan cara-cara yang lebih modern dan canggih untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan efektif. Solusinya adalah tetap mempertahankan kualitas batik dan kekhasan batik tulis itu sendiri, agar tidak kalah menarik dengan pembuatan yang lebih modern dan canggih.
d. Visi
Visinya adalah untuk memperkenalkan kerajinan batik tulis lasem kepada masyarakat global dan mengembangkannya menjadi lahan bisnis yang mampu menyumbang devisa negara
e. Misi
Misi yang akan dijalankan secara umum adalah:
1. Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui lingkungan tempat kerja dan tempat tinggal yang bersih dan sehat.
2. Pemberian upah yang wajar sesuai dengan keahlian dan prestasi kerja yang diberikan kepada perusahaan.
3. Meningkatkan kualitas dan daya saing yang berpotensi untuk memasuki pasar global.
4. Mensejahterakan kehidupan pengrajin batik dan warga sekitarnya.
Sedangkan misi secara lebih khusus dari usaha kolektif penulis adalah:
1. Menumbuhkan semangat Kewirausahaan dalam diri pengusaha guna menciptakan usaha baru secara profesioanal dan terlatih.
2. Menciptakan usaha kecil menengah yang efektif dan efisien dalam rangka menigkatkan perekonomian di sektor riil.
3. Memperkanalkan produk baru batik tulis lasem yang berkualitas, terjangkau, inovatif dan kreatif yang efektif untuk memperoleh tampilan yang berbeda.
f. Tujuan
Tujuan usaha kedepannya adalah mengembangkan usaha batik tulis lasem melalui pemasaran dengan cara-cara yang bagus sehingga mampu mendistribusikan ke daerah lain secara luas dan memberdayakan masyarakat sekitar secara optimal melalui kerajinan batik tulis dengan menjalin hubungan kerja sama terhadap para pengusaha produksi batik tulis lasem.
g. Analisis pesaing dan peluang pasar
Secara umum, pengrajinan batik tulis lasem memiliki banyak pesaing dalam mendistribusikan produk yang dihasilkan. Baik itu pesaing dari sesama usaha batik tulis seperti batik tulis di pekalongan, solo, yogja, dan daerah-daerah lain maupun pesaing yang dari usaha di luar pembatikan, misalkan usaha sablon, bordir, dan usaha-usaha lain yang nantinya akan menyulitkan tingkat pemaasaran batik tulis itu sendiri. Sedangkan pesaing-pesaing dari lingkup usaha penulis biasanya berupa para pengusaha sektor perdagangan yang memasarkan produk-produk sejenis.
Dalam usaha pengrajinan batik tulis lasem sebenarnya mempunyai peluang usaha yang besar, khususnya usaha kolektif ini. Usaha tersebut bergerak di bidang perdagangan dengan produk andalan adalah busana yang berbahan batik tulis lasem.
Untuk menarik minat konsumen mau menerima penawaran batik tulis lasem, strategi penetapan harga yang kompetitif harus benar-benar dijalankan dengan tepat dan efisien. Dalam usaha yang berjalan, penulis dan teman-teman menetapkan harga sesuai harga pasar bahkan sedikit dibawahnya. Ada beberapa produk dari batik tulis lasem yang memang dihargai dibawah harga pasar pada umumnya. Hal tersebut dilakukan karena keuntungan yang diperoleh sudah dianggap cukup.
Usaha yang maju salah satu cirinya adalah memiliki kuantitas produk yang sebanyak-banyaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan dari usahanya. Dengan semakin bertambahnya modal, maka produk-produk yang akan di pasarkan juga semakin bertambah. Sehingga pendapatan yang diperoleh akan semakin banyak. Itulah cara yang digunakan dalam usaha penulis.
B. Managemen dan Organisas
Struktus Organisasi
Direktur : Ira Nur Cahyani
General Manajer : Munfarichah
Kepala Tata Usaha : Fakhrun Nisak
Bendahara : Puji Rahayu
Manager pemasaran : Pipin Aliati
C. Marketing Strategi
Strategi pemasaran yang dilakukan penulis secara umum adalah sebagai berikut.
1. Media Online
Media online saat ini memang sedang digandrungi oleh para perintis maupun pengusaha lama untuk memperluas jaringan pemasaran mereka masing-masing. Target pemasaran tidak hanya konsumen didaerah lokal saja, melainkan seluruh kawasan nasional bahkan tembus ke pasar internasional. Hal ini dikarenakan pada dasarkan dunia online dengan melalui media jejaring sosial memang tidak mengenal jarak dan waktu. Daerah-daerah di seluruh dunia seakan-akan mudah untuk dikunjungi. Inilah yang dimanfaatkan oleh para pengusaha besar maupun kecil untuk mempromosikan sekaligus memasarkan produk-produk andalannya.
Berkaitan dengan usaha penulis dimana sifat dari usaha kami adalah perdagangan. Untuk mendapatkan produk-produk batik tulis lasem yang sesuai dengan permintaan pasar penulis mempunyai langganan pemasok dari beberapa pengusaha produksi batik tulis lasem dengan varian produk yang diinginkan konsumen.
Dalam memasarkan produk, penulis mempunyai website, toko online dan sosial media lainnya seperti email, yahoo messenger, twitter, facebook, dan yang paling familiar sekarang ini adalah bbm. Penulis dan anggota lain harus aktif dan siap 24 jam melayani konsumen yang berkunjung ke media online dan mengusahakan untuk merespos dengan cepat atas semua pertanyaan, permintaan dan lainnya yang masuk secara online agar konsumen mengetahui bahwa penulis bisa dihubungi secara online dan dapat dipercaya. Selain itu, beberapa komunitas yang sesuai dengan produk batik tulis di dunia onlineperlu untuk di ikuti dan aktif didalamnya. Serta menjaga krediabilitas di media online dan terus membangun kepercayaan terhadap pengunjung.
2. Penyebaran Brosur
Brosur merupakan salah satu metode promosi yang lazim dilakukan pebisnis. Promosi jenis ini bisa dilakukan oleh pebisnis kecil yang memiliki dana promosi terbatas seperti usaha penulis saat ini. Penyebaran brosur-brosur dilakukan ke beberapa titik target pemasaran yang tepat. melakukan pengujian sebelum dilakssanakannya penyebaran secara masif. Cara pengujian cukup sederhana, kami meminta beberapa orang yang menjadi target pasar untuk melihat dan mengomentari brosur yang dibuat buat. Setelah penyebaran dilakukan, maka perlu untuk mengukur tingkat keberhasilan penyebaran brosur. Jika ada yang kurang maka harus dilakukan pembenahan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
3. Kawasan wisata batik lasem
Lasem merupakan kecamatan yang memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan usaha produksi sekaligus pemasaran produk batik tulis. Ada beberapa titik-titik pengusaha yang berbasis industri yang kini mulai mengembangkan usaha batik tulis setelah sekian lama nama batik tulis lasem kian meredup. Selain itu adanya outlet-outlet maupun toko-toko penjaualan produk batik tulis termasuk didalamnya usaha yang di sedang di kerjakan penulis, sehingga secara tidak langsung terciptalah sebuah kawasan atau kampung batik tulis lasem yang akan menjadi peluar besar untuk menjadikannya sebagai kawasan wisata batik tulis.
D. Operation Flow
Arus produksi dari produsen sampai konsumen
Alur bisnis Pengarajian Btik Tulis Lasem dalam lingkup besar berawal dari para pengusaha atau bos-bos kecil memberikan bahan-bahan mentah seperti kain, peratan pembatikan dan apa saja yang dibutuhkan dalam proses pembatikan kepada para pengrajin batik. Para pengrajin disini dapat berupa karyawan tetap maupun karyawan borongan. Karyawan tetap adalah karyawan yang bekerja di perusahaan batik lasem secara tetap dan posisinya berada di dalam perusahaaan tersebut. Berbeda dengan karyawan borongan yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang memiliki kesibukan sendiri dirumahnya sehingga pembuatan batik tulis tersebut hanya sebagai usaha sampingan dan mereka tidak perlu datang langsung di perusahaan karena nantinya akan ada orang yang ditugaskan untuk mengambil produk-produk yang dihasilkann oleh mereka.
Setelah proses pembuatan batik selesai dan menghasilkan barang atau kain-kain batik yang diinginkan, barulah para pengusaha mendistribusikannya melalui media online, wissata batik tulis lasem, outlet-outlet mapun toko-toko kecil.
Disinilah usaha kolektif penulis bersama teman-teman mulai berperan. Untuk menjalankan usaha perdagangan ini, penulis bersama teman-teman menitipkan produk-produknya melalui sebuah showroom perbatikan. Hal ini untuk memudahkan penjualan karena usaha yang penulis jalankan belum mempunyai tempat atau butik sendiri. showroom batik tulis lasem yang kami titipi beralamat JL.Jatirogo Jolotundo Krajan, Rt 03 / Rw 01. Adapun produk batik yang kami sediakan dapat berupa busana dan kain batik.
Karena produk yang tersedia adalah didonimasi oleh busana batik untuk seluruh kalangan usia, target pemasaran dari usaha penulis adalah anak-anak, remaja maupun dewasa. Produk-produk yang di terima berasal dari beberapa pengusaha yang mendistribusikan barangnya, sehingga usaha yang dijalankan bersifat perdagangan dimana nantinya barang-barang tersebut akan di jual kembali pada konsumen atau pembeli akhir.
Secara tidak langsung usaha tersebut dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan para pengarajin batik. Hal ini dikarenakan bahwa jika stok atau pasokan dari toko-toko atau outlet mapun dari tempat atau lahan pendistribusian lain mengalami penurunan, maka secara otomatis akan menyebabkan tingkat produksi batik tulis tersebut juga menurun. Dan pada akhirnya baik para pengusaha ,maupun para pengrajin akan mengalami kerugian. Demikian juga sebaliknya, jika tingkat distribusi mengalami peningkatan, maka pihak produsen akan menuai keuntungan.
Berikut adalah bagan arus pendistribusian dan pemasaran Batik Tulis Lasem.
Konsumen akhir
|
Para Pengrajin Batik Tulis Lasem
|
Pengepul Batik atau Para Pengusaha
|
Media Online
|
Wisata Batik tulis Lasem
|
Outlet atau Toko-toko
|
E. Financial Projection
Rencana keuangan usaha dalam pengembangan usaha pemasaran meliputi
a. Rencana Pendanaan
Data dasar keuangan usaha:
Modal usaha terdiri dari modal sendiri dan investasi bank. Modal sendiri berasal dari tabungan anggota kelompok usaha penulis yangterdiri dari lima orang. Masing-masing anggota menginvestasikan uang sejumlah Rp 1.000.000,00. Sehingga jumlah subtotalnya senilai Rp 5.000.000,00. Sedangkan investasi dari bank senilai Rp 5.000.000,00.
Berikut rincian harga pemasaran produk.
No.
|
Jenis Barang
|
Jumlah Barang
|
Harga Awal
|
Laba
|
Harga Jual
|
1.
|
Dewasa Pria
|
5
5
5
5
5
|
@ Rp 240.000,00
@ Rp 155.000,00
@ Rp 130.000,00
@ Rp 150.000,00
@ Rp 95.000,00
Total:
Rp 3.900.000,00
|
@ Rp 30.000,00
@ Rp 30.000,00
@ Rp 25.000,00
@ Rp 25.000,00
@ Rp 25.000,00
Total:
Rp 675.000,00
|
@ Rp 270.000,00
@ Rp 195.000,00
@ Rp 155.000,00
@ Rp 175.000,00
@ Rp 120.000,00
Total:
Rp 4.575.000,00
|
2.
|
Dewasa Wanita
|
5
5
5
5
5
|
@ Rp 110.000,00
@ Rp 120.000,00
@ Rp 130.000,00
@ Rp 145.000,00
@ Rp 240.000,00
Total:
Rp 3.725.000,00
|
@ Rp 25.000,00
@ Rp 25.000,00
@ Rp 30.000,00
@ Rp 30.000,00
@ Rp 30.000,00
Total:
Rp 700.000,00
|
@ Rp 135.000,00
@ Rp 145.000,00
@ Rp 160.000,00
@ Rp 175.000,00
@ Rp 270.000,00
Total:
Rp 4.425.000,00
|
3.
|
Anak-anak
|
5
5
5
5
|
@ Rp 75.000,00
@ Rp 65.000,00
@ Rp 95.000,00
@ Rp 45.000,00
Total:
Rp 1.325.000,00
|
@ Rp 25.000,00
@ Rp 20.000,00
@ Rp 25.000,00
@ Rp 20.000,00
Total:
Rp 450.000,00
|
@ Rp 100.000,00
@ Rp 75.000,00
@ Rp 120.000,00
@ Rp 65.000,00
Total:
Rp 1.800.000,00
|
Rencana pendanaan dalam usaha ini kedepannya untuk mengembangkan usaha ini dengan mengelola secara profesional, menggunakan pembukuan dan pencatatan sesuai ilmu akuntansi. Seluruh transaksi baik peneriman dan pengeluaran di catat dan dibuat laporan keuangan sederhana.
b. Kebijakan modal kerja
Manajemen modal kerja yang baik perlu diterapkan oleh perusahaan karena kemampuan mengelola modal kerja secara efektif akan mendukung pencapaian tujuan perusahaan. Pengelolaan modal kerja yang baik berarti dana yang ditanamkan dalam modal kerja mampu membiayai operasional perusahaan dalam jumlah yang tidak berlebihan tetapi tidak juga kurang. Tujuan manajemen modal kerja adalah mengelola aktiva lancar dan hutang lancar sehingga memperoleh modal kerja netto yang layak dan menjamin tingkat likuiditas perusahaan. Ada tiga kebijakan dalam mengelola modal kerja adalah: konservatif, agresif dan moderat.
Kebijakan modal kerja yang digunakan dalam usaha penulis adalah kebijakan modal konservatif merupakan menajemen modal kerja yang dilakukan secara hati-hati. Pada kebijakan konservatif ini modal kerja permanen dan sebagian modal kerja variable dibelanjai dengan sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja variable lainnya dibelanjai dengan sumber dana jangka pendek.
c. Proyeksi cash flow
Cash flow adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.
Jika dalam satu bulan usaha ini mampu menjual tujuh puluh (70) produk, maka diperkirakan perolehan omzet sebesar Rp 8.975.000,00 dan laba usaha sebesar Rp 1.825.000. Sehingga dalam setahun kemampuan menjual produk yang dilakukan usaha ini sebesar 840 buah dan dapat memperoleh omzet Rp 54.900.000,00 dan laba usaha sebesar Rp 21.900,00.
d. Break-even analysis
Dalam dunia bisnis, Informasi merupakan alat yang penting bagi manajemen untuk membantu menggerakkan dan mengembangkan kegiatan perusahaan. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan suatu perusahaan tergantung pada sistem informasi akuintansi manajemen. Dengan menggunakan informasi akuntansi manajemen maka, akan membantu manajemen dalam pengambilan keputusan secara efektif, mengurangi ketidak pastian dan mengurangi resiko dalam memilih alternatif. Dengan menggunakan informasi manajemen ini, bisa dilakukan pengendalian manajemen. Hal ini disebabkan informasi akuntansi manajemen menekankan hubungan antara informasi keuangan dengan manajer yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaannya.
Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Begitu juga dengan usaha yang penulis jalankan. Berikut penghitungan Break Even dari usaha penulis.
Modal usaha sebesar Rp 10.000.000,00 dengan laba usaha sebesar Rp 1.825.000,00,00 per bulan. Sehingga Break Even berdasarkan penghitungan waktu yang diperoleh dari usaha diatas adalah selama enam (6) bulan dengan jumlah lama/provit sebesar Rp 10.950.000,00.
Daftar Pustaka
· Kwan HL, William Dyah Rosina dan Aulia Hadi, Eksplorasi Sejarah Batik Lasem, IPI Institut Pluralisme Indonesia, Jakarta, 2010
· http://sosbud.kompasiana.com/2014/06/21/dinamika-batik-tulis-lasem-dalam-bingkai-sejarah1-663549.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar